Galeri SMK Muhammadiyah 2 Surakarta





Artikel Guru (3)
Kemuhammadiyahan (5)
Kreativitas (0)
Lowongan Kerja (0)
Materi Pelajaran (3)
Pendidikan Nasional (1)
Prestasi (4)
Seputar Sekolah (12)
SMK Bisa ! (4)






  • (270)
  • v (278)
  • f (12)
  • Home » Artikel Guru » Etika Bertemu Dalam Islam


    Sabtu, 28 September 2013 - 06:41:26 WIB
    Etika Bertemu Dalam Islam
    Diposting oleh : Administrator SMK Muhammadiyah 2 Surakarta
    Kategori: Artikel Guru - Dibaca: 10495 kali

    "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat". (Q.S.an-Nur (24):27)

    Salah satu bentuk akhlaq Islam, adalah shilaturrohim. Shilaturrohim atau menyambung tali kasih sayang merupakan sesuatu yang tekankan oleh Rasulullah SAW. Perwujudan shilaturrohim banyak terjadi pada berbagai kegiatan, antara lain : pada saat walimatul’ursy (pesta pernikahan), walimatul aqiqoh, tasyakuran, dll. Bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan tentang etika bertamu sebagai perwujudan shilaturrohim?

    Seorang Muslim meyakini kewajiban menghormati tamu dan benar-benar menghargainya sesuai yang diharapkan, karena Rasulullah SAW, bersabda :

    Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Kemudian (Kiamat) hendaklah memuliakan tamunya”. (HR.Al-Bukhori(6018) dan Muslim(471). Oleh sebab itu, seorang Muslim agar berpegang teguh terhadap etika atau adab berikut ini dalam masalah bertamu :

    Undangan Pertemuan

    1. Hendaknya untuk pertamuan ini mengundang orang-orang yang bertaqwa, bukan orang-orang fasiq dan durhaka, karena Rasulullah SAW. Bersabda : “Jangan bersahabat kecuali dengan orang beriman dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa." (HR.Ahmad, Abud Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Hiban, dan Al-Hakim.
    2. Jangan hanya mempertamukan orang-orang kaya dengan mengabaikan orang-orang miskin.
    3. Hendaknya tidak bermaksud bermewah-mewah dan berbangga-bangga dan diniatkan untuk membahagiakan orang-orang mukmin dan menebar rasa kegembiraan dan kesenangan di dalam hati saudara-saudara seiman.
    4. Jangan mengundang orang-orang yang sudah diketahui sulit untuk bisa hadir atau orang yang akan terganggu dengan saudara-saudara yang hadir lainnya.

    Adab Memenuhi Udangan Pertamuan

    1. Hendaknya seorang Muslim selalu memenuhi undangan, tidak melalaikan kecuali ada udzur (alasan syar’i) seperti khawatir akan menyebabkan bahaya pada agamanya atau pada keselamatan fisiknya.
    2. Tidak membeda-bedakan antara orang fakir atau orang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang fakir itu mengecewakan hatinya.
    3. Hendaknya di dalam memenuhi undangan itu tidak membeda-bedakan antara yanh jauh dan yang dekat. Dan jika ada dua undangan, maka seharusnya ia memenuhi undangan yang pertama dan minta maaf kepada pengundang yang belakangan.
    4. Hendaknya jangan terlambat (memenuhi undangan) karena alasan puasa, akan tetapi segea hadir. Rasulullah SAW, telah bersabda :Apabila salah seorang kalian diundang, maka hendaklah ia mengabulkannya. Jika ia sedang berpuasa, hendaklah mendo’akannya dan jika ia tidak puasa hendaklah makan”.
    5. Ketika memenuhi undangan hendaknya berniat menghormati saudaranya sesama Muslim agar mendapat pahala.

    Dengan niat yang baik, perbuatan yang hukumnya mubah bisa berubah menjadi suatu kebijakan yang berpahala.

    Adab Menghadiri Undangan

    1. Hendaknya tidak berlama-lama di rumah mereka agar tidak mengganggu, dan juga jangan tergesa-gesa untuk datang, agar tidak membuat mereka terkejut karena belum siap. Hal ini dapat mengganggu mereka.
    2. Hendaknya tidak mengedepankan diri, akan tetapi hendaknya bersikap tawadlu (rendah hati). Apabila tuan rumah mempersilahkan duduk di suatu tempat, maka duduklah di situ dan jangan meninggalkannya.
    3. Segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena segera menyuguhkan hidangan itu pertanda menghormatinya.
    4. Hendaknya tidak segera mengangkat (menarik kembali) makanan sebelum mereka benar-benar tidak mengambilnya dan semua hadirin benar-benar selesai makan.
    5. Hendaknya menghidangkan makanan untuk tamu secukupnya, karena kekurangan (sedikit, tidak cukup) itu menodai wibawa dan kehormatan diri, sedangkan berlebih-lebihan adalah sikap memaksakan diri dan ada unsur pamer.
    6. Apabila seorang Muslim menginap sebagai tamu di rumah seseorang, hendaknya tidak lebih dari tiga hari, kecuali jika tuan rumah memaksanya untuk tinggal di rumahnya.
    7. Hendaknya mengantar tamu (ketika ia akan pulang) hingga keluar rumah.
    8. Hendaknya tamu pulang dengan lapang dada, sekalipun ia merasakan ada sedikit rasa kecewa.
    9. Hendaknya setiap muslim mempunyai tiga ruang tidur, yang satu untuk dirinya, satu lagi untuk keluarganya dan yang ketiga untuk tamu. Rasulullah SAW. telah bersabda : “Satu tempat tidur untuk suami, satu tempat tidur lagi untuk istri dan satu lagi untuk tamu, sedangkan yang keempat adalah untuk setan”. (HR.Muslim (2084)).

     

    Praktek Bertamu di Masyarakat

    Sesungguhnya ajaran Islam tentang shilaturrohim begitu luhur dan mulia, Salah satunya pada kegiatan Walimatul Ursy (tasyakuran pernikahan). Dapat kita saksikan, gedung-gedung mewah disewa. Berbagai menu hidangan pun dihadirkan dari perusahaan catering yang berkualitas. Pesta pernikahan digelar secara semarak, kegiatan yang sesaat itu dipersiapkan secara matang, dari kepanitiaan, pembagian tugas, peralatan dan prasarana serta tamu undangan. Para tamu undangan diundang dari berbagai kalangan, baik tetangga, teman kerja, relasi bisnis bahkan pejabat.

    Oleh karena itulah, tentu kita sebagai manusia Muslim, berusaha instrokpesi diri (muhasabah). Banyak hal yang harus dibenahi dan diperbaiki dari kebiasaan di masyarakat khususnya pada kegiatan Walimatul Ursy. Islam sebagai jalan hidup kita, telah membentangkan secara rinci dan sistematis bagaimana sebaiknya kita dalam mengadakan suatu pertemuan. Tentunya segala tradisi dan kebiadaan yang bertentangan dengan syari’at Islam harus dibuang jauh-jauh. Jangan sampai akidah Islamiyah kita terkena polusi pengaruh dari kebiasaan di masyarakat yang tidak lahir dari rahim khazanah Islam.

    Penulis : Nur Budi Asri Wahyuni, SE (Guru SMK Muhammadiyah 2 Surakarta)

    Daftar Pustaka

    1. Kitab Suci Al Qur’an surat AN-Nuur (24 : 27)
    2. Sinar Mentari, edisi Oktober 2011 M.



    1153 Komentar, status : hidden. Terima kasih atas komentar Anda.



    Isi Komentar :
    Nama :
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    November, 2017
    MSSR KJS
       1234
    567891011
    12131415161718
    1920212223 2425
    2627282930  

    Today is : 24 November 2017




    / /






    Apa yang Anda suka di SMK Muhammadiyah 2 Surakarta?

    Sejuk dan Aman
    Keramahan Guru
    Prestasi
    Sistem Pengajaran
    Lingkungan Asri
    Lainnya

    Lihat Hasil Poling




    • 10 Februari 2016
    UJIAN TRY OUT Tahap ke-1 Tingkat XII thn ajaran 2016/2017

    • 13 April 2015
    Pelaksanan UN th. ajaran 2014/2015

    • 14 April 2014
    Pelaksanaan Ujian Sekolah dan Nasional Siswa SMK Muh 2 Ska

    • 01 September 2013
    Upgrade Website SMK


    803535

    Pengunjung hari ini : 59
    Total pengunjung : 165487
    Hits hari ini : 137
    Total Hits : 803535
    Pengunjung Online: 1